Layar tangkap akun Singapore Incedents. (Ist)
Layar tangkap akun Singapore Incedents. (Ist)

Terus mengalami peningkatan pasien positif corona  membuat masyarakat Indonesia semakin waspada. Tercatat, sampai Minggu (22/3/2020) kemarin, pasien positif corona telah mencapai 514 orang.

Berbagai testimoni melalui dunia maya pun merebak atas penanganan corona di Indonesia. Dari tak siapnya pemerintah, peralatan medis, informasi publik yang dikritik banyak pihak, hingga persoalan keyakinan dalam masyarakat.
Yakni corona masih dipandang sebelah mata dan dibenturkan dengan keyakinan beragama yang dipandang berbagai pihak semakin membuat sebaran corona semakin meluas.

Hal ini terlihat dari postingan akun Facebook yang menjadi viral dengan nama Singapore Incedents. Di postingannya, sindiran keras diluncurkan atas aktivitas para ibu di depan masjid yang diduga berlokasi di Surabaya.

"Don't Feat Corona, Fear Allah", "Wedi Corona, Thibbil Qulub ae Lik", "Maut itu Pasti, Corona itu Ujian". Begitulah para ibu dalam foto itu membentangkan poster terkait corona yang dikritik habis oleh akun di atas.

"(Indonesia) don't use your religion to cover up your stupidity," tulis akun Singapore Incedents yang di-posting ulang oleh akun @SukoMartantyo sebagai berikut. "(Indonesia) jangan gunakan agamamu untuk menutupi kebodohanmu. Media asing sadis bener sindirannya," cuitnya sambil menyertakan emoji tertawa.

Sontak saja postingan itu pun banjir komentar warganet. Rata-rata warganet mengkritik keras aktivitas di foto yang disebut terjadi  di Masjid Agung Surabaya. Seperti yang disampaikan akun @fylz_, "Jan*** iku nng suroboyo ternyata, isin aku dadine," cuitnya yang diikuti oleh @son__good, dengan menulis, "Iyoo masjid agung."

Postingan akun Singapore Incedents itu, menurut akun  @kerberooz, dikarenakan, "Kesal mngkn mereka (singapore), krn sekarang banyak new cases corona di Sg yg berasal dari imported cases, salah satunya visitors dari indonesia."

Warganet lainnya juga banyak menanggapi. "Agama dipertuhankan, sedangkan perintah tuhan di simpangkan. Negeriku lucu," ujar @hellowind_.

Seperti diketahui, Surabaya menjadi wilayah tertinggi sebaran corona di Jawa Timur (Jatim) hingga saat ini.

Terlepas dari sindiran keras warganet itu, akun @reganfarma menuliskan yang seharusnya dikritik keras oleh pers adalah pemerintah.
"Itu spanduk menentang siapa di photo pers singapore? Memang pemerintah menerapkan lockdown, kan tidak! Yang harus dikeritisi pers itu sikap pemerintah thd pademi, bukan komentari prilaku sebagian warga. Itu sih, sama aja bukan prilaku pers, tapi post akun medsos," cuitnya.

Kritikan media luar negeri, baik di dunia nyata dan maya, bukan kali pertama. Sejumlah media internasional lainnya, seperti Straits Times, Bloomberg, juga sempat mengungkit kritiknya atas berbagai pernyataan Presiden Jokowi terkait klaim meminum ramuan tradisional yang bisa mencegah virus corona.

"Presiden Indonesia Joko Widodo telah memperkuat spekulasi bahwa ramuan herbal dapat menangkal infeksi virus corona," demikian paragraf pembuka artikel Straits Times berjudul "Indonesia President Joko Stokes Speculation Herbs Can Fight Coronavirus,". “Namun, penggunaannya (jamu) sebagai pencegah penularan virus corona belum dapat dibuktikan.” lanjut tulisan itu.

Beranjak ke lainnya, pernyataan Menteri Utama negara bagian barat Australia, Mark Gowan, juga pernah menyampaikan adanya dugaan under reporting terkait  corona di Indonesia.
Yakni, Indonesia melaporkan pasien virus corona lebih sedikit dari kenyataan.

"Jelas sekali ada under reporting di Indonesia. Kekhawatiran saya meningkat dalam beberapa hari terakhir ini," ucapnya seperti dikutip ABC, sepekan lalu di sela pertemuan  Perdana Menteri Scott Morrison dengan para pemimpin negara bagian soal virus corona di Sydney.

Tak ketinggalan Google pun akan melakukan penghapusan konten terkait berbagai informasi yang mengklaim obat-obatan alternatif seperti jamu lebih ampuh menangkal virus Corona.


"Namun bukan berarti semua video terkait jamu kami take down. Misalnya ada video-video yang mengaku lebih ampuh daripada ke dokter, itu pasti kami take down," kata Head of Public Policy and Government Relations Google Indonesia Putri Alam, Senin (9/3/2020) lalu.

Berbagai kritikan dan sindiran penanganan Corona Indonesia itu tentunya perlu untuk disikapi dengan bijak dan terarah oleh pemerintah. Lepas dari adanya dugaan berbagai kepentingan di dalam kritikan, sindiran itu, pemerintah wajib hadir di tengah pandemi Corona yang terus menyebar di berbagai wilayah Indonesia dengan segala problematikanya saat ini.

Hal itu pula yang sempat ditegaskan Jokowi dalam pidatonya terkait pencegahan corona.  Yakni, pemerintah meminta kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap produktif dengan meningkatkan kewaspadaan agar penyebaran covid-19 ini bisa dihentikan.

"Dengan kondisi ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah. Inilah saatnya bekerja bersama-sama, saling tolong menolong ,dan bersatu padu, gotong royong, kita ingin ini menjadi sebuah gerakan masyarakat agar asalah Covid-19 ini bisa tertangani dengan maksimal," ucap Jokowi dalam pidatonya.