Jenazah Supratikno setelah dievakuasi beserta barang bukti yang ditemukan oleh petugas. (Foto: Istimewa)
Jenazah Supratikno setelah dievakuasi beserta barang bukti yang ditemukan oleh petugas. (Foto: Istimewa)

Nahas betul nasib dialami Supratikno (35) warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Bagaimana tidak, selepas membelah duren dan bermalam di hotel di wilayah Kepanjen, bersama teman wanitanya bernama Njari Puswitaningsih (25), dia kritis. 

Bahkan, nyawa ia tidak tertolong saat dilarikan ke RS. Wava Husada, Senin (10/2/2020). 

Menurut keterangan petugas kepolisian setelah mendengar pernyataan dari petugas hotel, korban datang bersama teman wanita bernama Njari Puswitaningsih (25) pada Minggu (9/2/2020). "Masuk ke dalam hotel pukul 22.00 WIB, menggunakan sepeda motor matik berwarna putih dengan nomor polisi N-6752-EAF," ujar Kasubag Humas Polres Malang Ipda Nining Kusumawati.

Kepada polisi, petugas menjelaskan kejadian itu bermula pada Senin (10/2/2020) pukul 05.00 WIB petugas hotel Hana Budi Lestiono bermaksud menelepon ke kamar 103 yang digunakan Supratikno. Tujuannya untuk memberikan informasi  bahwa waktunya sudah habis, tetapi tidak ada jawaban. Lalu pukul 05.30 WIB Njari Puswitaningsih (25) menelpon petugas hotel agar segera datang ke kamar 103. "Informasinya kondisi Supratikno sedang kritis dengan posisi di tempat tidur," jelas petugas.

Melihat kondisi tersebut, manajer hotel menyuruh bawahannya untuk segera merujuk Supratikno (35) ke RS. Wava Husada,"Pukul 07.00 WIB Supratikno dengan keadaan kritis dirujuk ke RS. Wava Husada dan Pukul 08.00 WIB Supratikno dinyatakan sudah tidak bisa tertolong atau sudah meninggal dunia,"Tambah petugas.

Kapolsek Kepanjen AKP Yatmo melalui Kanit Reskrim Polsek Kepanjen AKP Supriyadi menuturkan. "Bahwa Supratikno diduga habis makan duren lalu menenggak miras (minuman keras), mabuk berat, memicu penyakit Supratikno dan akhirnya meninggal dunia,"Tegasnya.

Petugas telah mengamankan barang-barang di kamar Supratikno, yaitu beberapa botol minuman keras, snack, dompet, tas, rokok, ponsel, tisu, dan sepatu.

Petugas menuturkan,"Dari pihak keluarga meminta kepada pihak kepolisian untuk tidak dilakukan autopsi. Keluarga menganggap bahwa meninggalnya Supratikno karena musibah," tutup Yatmo.