Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia. (Foto: Anang Basso/Tulungagung TIMES
Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia. (Foto: Anang Basso/Tulungagung TIMES

Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) menetapkan Mochammad Hasan alias Mami Hasan (41) sebagai tersangka kasus pencabulan. Pria yang diketahui merupakan Ketua Ikatan Gay Tulungagung (IGATA) tersebut telah mengakui melakukan tindak cabul pada 11 korbannya.

Dalam rilisnya, Direskrimum Polda Jatim Kombes Pitra Ratulangi mengungkapkan bahwa ke-11 korban tersebut masih berusia belia atau anak-anak. "Modusnya, saat ada anak-anak yang datang ke kedai kopi, biasanya pelaku membujuk dengan iming-iming sejumlah uang," ujar Prita pada awak media.

Uang iming-iming pada tiap korban bervariasi, mulai dari Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu. Tawaran uang itu untuk menarik minat korban agar mau melakukan persetubuhan sesama jenis dengan Hasan..

"Korban yang terbujuk dan terpengaruh uang akan diajak pelaku ke rumahnya dan melakukan aksi cabul," paparnya.

Pitra menambahkan, anak-anak yang menjadi korban Hasan berusia antara 15 hingga 17 tahun. Pelaku mengaku selama setahun ini telah melakukan tindak kekerasan seksual pada 11 anak.

Hasan berhasil ditangkap di Desa Krajan Gondang, Kabupaten Tulungagung. Penangkapan berlangsung pada 15 Januari 2020 saat Hasan tengah bersembunyi di rumah salah satu rekannya.

Unit III Asusila Subdit IV Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim juga turut mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya kepingan CD berisikan video porno, celana dalam milik korban, sejumlah kondom, hingga handphone dan uang milik pelaku.

"Tersangka Mami H melakukan tindak kejahatan terkait dengan UU Perlindungan anak no 17 tahun 2016 di mana kita kenakan pasal 82 terkait kebohongan, membujuk anak-anak atas perbuatan cabul. Minimal 5 tahun maksimal 15 tahun, ini cukup berat ya," terangnya.

Mami Hasan mengaku perbuatannya sudah dilakukan setahun ini. "Satu tahun ini, 2018 sampai 2019," kata Hasan Senin (20/1) kemarin.

Hasan beralasan para korban yang datang ke rumahnya, mengaku butuh uang. Hasan pun menawari uang dengan sejumlah syarat. Yakni, mau berhubungan badan dengannya.

"Mereka datang ke saya butuh uang, terus (saya tawari) main mau, mereka datang ke rumah saya, saya ajak masuk kamar," imbuh Hasan.

Dari sumber yang beredar, Hasan merupakan Ketua Ikatan Gay Tulungagung (IGATA) yang anggotanya berjumlah ratusan orang. Anggota komunitas itu terdiri dari berbagai kalangan, mulai pelajar hingga ada yang berstatus PNS.

Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia mengatakan akan melakukan upaya identifikasi dan sosialisasi terkait maraknya LGBT di Tulungagung.

"Melalui sekolah-sekolah kita bisa lakukan upaya pencegahan, yang untuk kelompok yang sudah terlanjur akan kita sosialisasi agar pengaruh LGBT ini bisa kita cegah dan tidak makin menyebar," terang EG Pandia, Selasa (22/01) siang. 

Selain itu, Kapolres menghimbau agar orang tua turut aktif mengawasi anaknya supaya tidak terpengaruh untuk ikut terlibat komunitas serupa. "Kita minta agar orang tua memberi pengawasan bagi putra-putrinya dalam pergaulan agar tidak terjadi pengaruh yang dapat merusak masa depan anaknya," pungkasnya.