Warga Perumahan BTU saat mengantre mengisi air bersih dengan bantuan mobil ambulans Partai Perindo Malang (Istimewa).
Warga Perumahan BTU saat mengantre mengisi air bersih dengan bantuan mobil ambulans Partai Perindo Malang (Istimewa).

Hampir satu minggu lamanya, jaringan air bersih di Kota Malang mati dan tak mengalir sama sekali. Kondisi itu sangat disayangkan dan membuat para pelanggan Perumda Tugu Tirta Kota Malang (dulu PDAM Kota Malang) kelabakan. Bagaimana tidak, masyarakat harus memutar cara untuk mencari solusi saat akan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Salah satunya seperti yang dirasakan warga Perumahan BTU, Reza Bayu Setyawan. Dia menyampaikan, setidaknya ada 13 ribu warga yang harus kesulitan mendapatkan air bersih. Sementara bantuan tangki air bersih terbilang dangat lambat untuk dikirimkan.

"Sudah mulai Sabtu dini hari minggu lalu mbak air mati, sampai sekarang," katanya pada MalangTIMES.

Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, selama beberapa hari terakhir ini warga terpaksa meminta air tangki yang semestinya digunakan pengembang untuk melanjutkan proyek pembangunan. Selain itu, beberapa warga memilih untuk menampung air dengan mendatangi sumber di Wendit hingga meminta bantuan sanak keluarga yang tak terdampak aliran mati.

"Kami akhirnya juga izin gunakan air proyek pada developer, dan diizinkan. Kalau bantuan tangki PDAM ada, tapi nggak selalu mencukupi, kan jumlah warga BTU sangat banyak," jelasnya.

Dengan kondisi itu, warga mulai terbiasa mencari dan menandon air dari berbagai sumber. Upaya tandon air dilakukan menggunakan galon air dan untuk memenuhi kebutuhan esoknya, maka malam harinya warga sudah harus mendapatkan air bersih.

Dia pun menyampaikan kekecewaannya kepada PDAM Kota Malang. Pasalnya, selama ini upaya meminta bantuan air melalui call center yang disebarkan sama sekali tak mendapat respons. Sehingga, sebagai pelanggan ia merasa sangat tidak diperhatikan. Padahal kesalahan teknis yang terjadi semestinya harus segera disampaikan pada pelanggannya.

"Saya beberapa kali minta bantuan tangki air gunakan nomor yang berbeda nggak ada respons. Kalau pun katanya ada tambahan nomor call center, saya masih pesimis," tambah Reza.

Dia menyampaikan, air macet di kawasan perumahannya bukan kali pertama terjadi. Tahun-tahun sebelumnya juga pernah terjadi, namun kondisi kali ini ia sebut yang paling parah. Terlebih bantuan air bersih yang diberikan sangat minim dan dinilai tak begitu responsif.

"Dulu itu kami langganan air dengan developer dan sama sekali nggak ada masalah, air mengalir lancar. Tapi kemudian diputus dengan alasan warga harus berlangganan dengan PDAM. Setelah langganan PDAM, malah sering mati seperti ini," tegas dia.

Dia menyampaikan, pipa pecah selama ini selalu menjadi alasan PDAM saat jaringan air mati. Kondisi itu menurutnya sangat mengecewakan. Karena kejadian yang terulang tak dijadikan sebagai bahan evaluasi.

"Kami jadi mikir jelek. Kok lagi-lagi pipanya pecah. Apa yang kemarin-kemarin itu membenahinya nggak serius. Kalau pecah dan mampet terus kan kami yang rugi," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tugu Tirta M. Nor Muhlas menyampaikan, beberapa skema akan ditetapkan untuk mengatasi permasalahan pipa jebol saat ini. Diantaranya adalah rekayasa jaringan, revitalisasi sumur yang belum bisa dioptimalkan, saluran air bersih melalui mobil tangki, hingga terminal air.

"Karena jika harus mengganti pompa air membutuhkan waktu selama kurang lebih satu bulan. Dan selama penggantian akan dilakukan skema tersebut," terang dia.