Okky Setio Pranoto menunjukkan foto anaknya yang terlihat luka dan memerah. / Foto : Okky / Tulungagung TIMES
Okky Setio Pranoto menunjukkan foto anaknya yang terlihat luka dan memerah. / Foto : Okky / Tulungagung TIMES

Seorang bocah tujuh tahun berinitsal APL, warga Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, harus kembali ke ibu kandungnya di Ngunut setelah sebelumnya hidup bersama ibu tiri. Pasalnya, anak yang masih duduk di sekolah dasar itu menerima nasib yang tak seharusnya dialami.

APL sering mendapat dugaan perlakuan kasar dari TR, ibu tirinya. APL kerap dianiaya ibu tiri karena ayah kandungnya bekerja di luar negeri. "Saya masih di luar negeri. Anak saya kabur dari rumah karena dihajar ibu tiri dan setelah itu, saya dicerai," kata Okky Setio Pranoto, ayah kandung APL, saat menghubungi media ini.

Menurut Okky, meski bekerja di luar negeri, dirinya sering berkomunikasi dengan tetangga. Dari situ, dia memperoleh cerita  anaknya sering mendapat penyiksaan dari istri keduanya itu.

"Setiap tetangga selalu menjadi saksi mata, bahkan siap menjadi saksi atas perlakuan istri saya itu," ujarnya.

Khawatir sekali mendengar anaknya dianiaya, Okky berusaha pulang. Namun karena kontrak kerja belum usai, dia tak mendapatkan izin dari perusahaan. Akhirnya, Okky meminta orang tuanya (kakek APL) untuk mencari fakta yang terjadi di rumah.

"Keterangan bapak kandung saya dari saksi kejadian sudah didapatkan, saya berharap kasus anak saya bisa diangkat ke pidana karena ini keterlaluan," tandasnya.

Orang tua Okky juga pernah membawa APL ke polisi. Namun hingga kini, orang tua Okky  sebagai pelapor belum mendapatkan panggilan untuk dimintai keterangan. "Orang tua saya memberi kabar sudah lapor, tapi hingga kini belum dipanggil lagi," ungkap Okky.

Tetangga Okky membenarkan seringnya penganiayaan dialami  APL. Namun, para tetangga masih belum berkenan bercerita  panjang lebar antaran merasa tidak enak terhadap TR  atau ibu tiri APL.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sumbergempol Aiptu Edi Susanto pernah memperoleh informasi mengenai kejadian yang dimaksud. Namun, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan secara resmi dari keluarga korban APL.

Babinkamtibmas Desa Sumberdadi Bripka Edi Sukamto saat dikonfirmasi membenarkan adanya informasi dugaan penganiayaan yang dialami APL. "Seluruh tetangga tahu. Informasi secara lisan sudah saya terima, bahkan saya telusuri," ujar Edi.

Saat itu, APL diketahui kabur dari rumah karena tidak tahan dengan siksaan ibu tirinya. Saat kabur, APL ditemukan warga yang kemudian dikembalikan ke rumah ibu kandungnya di Ngunut.

"Saya sudah berusaha mendatangi ibu kandungnya. Kami minta agar kasus ini dilaporkan dan kami  yang mendampingi. Namun dari keterangan yang kami peroleh, ibu kandungnya tidak mau memperpanjang masalah dengan melapor ke polisi (UPPA)," ungkap  Edi.

Banyak bukti dugaan penganiayaan yang saat itu bisa dibawa. Di antaranya foto-foto luka lebam yang diduga akibat penganiayaan sang ibu tiri.

"Ibu kandungnya menyerahkan kasus ini ke mantan suaminya yang merupakan ayah korban. Namun ayahnya di luar negeri," terang Edi.

Untuk melaporkan kasus ini, setidaknya pihak keluarga korban harus melapor secara resmi untuk selanjutnya dapat diproses hukum lebih lanjut.