Ifada Nurohmaniah, Konsultan Psikologi / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES
Ifada Nurohmaniah, Konsultan Psikologi / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

Kejadian kekerasan terhadap anak kembali terjadi. Terbaru, kasus pencabulan terhadap anak tiri yang dilakukan Suparin (42), warga Pulosari Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung.

Kejadian tersebut menimpa Mawar (bukan nama sebenarnya) hingga menyebabkan gadis berusia 13 tahun itu kini telah hamil tujuh bulan. Psikolog Ifada Nurohmaniah menyebut bahwa pencabulan terhadap anak di bawah umur itu merupakan bentuk kejahatan seksual. 

"Kasus tersebut termasuk sexual abuse (kekerasan perilaku seksual terhadap anak), dalih apapun yang menjadikan penyebab terlibatnya anak-anak dalam perilaku seksual sebagai obyek seksual adalah perilaku menyimpang karena memberikan pengaruh sangat negatif bagi perkembangan jiwa anak," ujar Ifada yang juga merupakan konsultan psikologi itu.

Lanjutnya, sexual abuse yang terjadi masuk dalam istilah incest atau hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga dan kekerabatan yang dekat.

"Incest memang kejadian relasi individu yang berkaitan dengan darah namun istilah incest akhirnya dipergunakan secara luas termasuk menerangkan hubungan ayah tiri dengan anak tiri atau antar saudara tiri. Incest merupakan perbuatan terlarang bagi hampir setiap lingkungan budaya," terangnya.

Ada lima kondisi gangguan keluarga yang memungkinkan terjadinya incest. Di antaranya menurut Ifada adalah keadaan ketika anak perempuan menjadi figur utama yang mengurus keluarga dan rumah tangga pengganti ibu. Kemudian yang kedua, kesulitan seksual pada orang tua, ayah tidak mampu mengatasi dorongan seksualnya. 

Faktor lain, menurut Ifada yakni ketidakmampuan ayah mencari pasangan seksual di luar rumah, ketakutan perpecahan keluarga misalnya dalam pernikahan saudara untuk mempertahankan kekayaan, serta sanksi terselubung terhadap ibu yang tidak berpartisipasi dalam tuntutan peranan seksual sebagai istri.

"Faktor kondisi sosial yang sering memungkinkan pelanggaran tabu incest adalah rumah yang sempit dengan penghuni berdesakan, alkoholisme, isolasi geografis sehingga sulit mencari hubungan dengan anggota keluarga yang lain," tandasnya.

Kasus incest ini dilakukan oleh Suparin pada Mawar pertama kali dilakukan saat Mawar mengantar neneknya ke kamar mandi. Saat itulah, Suparin menyelinap dan masuk ke kamar Mawar. Saat Mawar di kamar, Suparin merayu Mawar agar mau disetubuhi.

Usai kejadian tersebut, Suparin memberikan uang sebesar Rp 20 ribu. Selang dua minggu, dia membelikan HP buat Mawar seharga Rp 800 ribu.

Setelah aksi pertama sukses, setiap malam Jumat, Suparin rutin melakukan aksi bejatnya hingga akhirnya Mawar hamil tujuh bulan.

"Saya khilaf. Saya  melakukannya tiap malam Jumat," kata karyawan pabrik tersebut di depan polisi.

Suparin menyetubuhi anak tirinya tiap malam Jumat karena saat itu istrinya, Ropiah, rutin mengikuti pengajian. "Jika malam Jumat, istri saya tidak di rumah dan ikut pengajian. Tiap istri berangkat, saya baru melakukan (tindak asusila)," ungkapnya.

Suparin menikahi Ropiah sejak 2014 lalu. Sedangkan kelakuan bejatnya terhadap korban Mawar dimulai sejak April 2018.