Kepala Sekolah SMPN 4 Kepanjen, Suprianto, saat ditemui awak media usai dimintai keterangan oleh penyidik Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Kepala Sekolah SMPN 4 Kepanjen, Suprianto, saat ditemui awak media usai dimintai keterangan oleh penyidik Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Pihak Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kepanjen tak menaruh curiga terhadap perilaku CH. Meski dilaporkan telah melecehkan dan mencabuli belasan siswanya, sekolah menilai bahwa sehari-hari CH merupakan sosok yang rajin. 

Kepala SMPN 4 Kepanjen Suprianto menyebut, CH selalu datang lebih awal sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai. Pihak sekolah tidak menyangka jika CH yang merupakan GTT (Guru Tidak Tetap) untuk mata pelajaran BK (Bimbingan Konseling) tersebut bertidak di luar batas norma kesusilaan.

”Kami tidak pernah menduga jika dia (CH) tega melakukan itu (pelecehan dan pencabulan) kepada korban (siswa). Tidak nampak ada tanda-tanda kelainan dalam dirinya (CH),” kata Suprianto, saat ditemui awak media usai memenuhi panggilan ke Polres Malang, Jumat (6/12/2019) sore. 

Suprianto datang ke Polres untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Dia menambahkan, jika CH sudah mengabdikan diri menjadi GTT di SMPN 4 Kepanjen, sekitar 5 tahun lamanya. 

Dalam kurun waktu tersebut, CH tidak menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan. ”Dia dikenal sebagai sosok guru yang rajin, suka membantu, dan sering tampil di depan (panggung) saat ada acara kegiatan di sekolah,” tambah Suprianto.

Seperti yang sudah diberitakan, CH dilaporkan ke Polres Malang dengan dugaan kasus pencabulan kepada 18 siswanya. Laporan tersebut diterima pihak kepolisian pada awal pekan lalu, Selasa (3/12/2019).

Aksi tidak senonoh itu, diduga kuat terjadi sejak satu tahun lalu. Bahkan, ada salah satu korban yang mengaku sudah dicabuli sebanyak 3 kali. Yakni, sejak korban masih duduk di bangku kelas VII SMP dan kini yang bersangkutan sudah duduk di bangku kelas VIII.

Belasan korban tidak dicabuli secara bersamaan, tetapi bergantian. Modus yang digunakan CH, adalah dengan cara memanggil korban untuk masuk ke ruangannya. 

Setelah menutup pintu dan kain gordin, terlapor mengaku jika dirinya sedang melakukan penelitian untuk program studi lanjutan S-3 dan membutuhkan bantuan para siswa.

Setelah disumpah di bawah kitab suci, para korban langsung ditelanjangi yang kemudian dirangsang organ vitalnya oleh terlapor. Mirisnya lagi, aksi pelecehan dan pencabulan itu baru berhenti setelah korban yang dicabuli mengalami klimaks (mengeluarkan sperma).

Modus semacam itu dilakukan kepada semua korban. Kasusnya baru terbongkar setelah salah satu korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada keluarga. Merasa tidak terima, kejadian ini akhirnya dilaporkan ke Polres Malang.

”Saya menjadi kepala sekolah di sana (SMPN 4 Kepanjen) kan masih sekitar 1 tahun 4 bulan. Selama saya di sana, dia (CH) memang sangat rajin, selalu datang ke sekolah paling pagi,” jelas Suprianto.

Setibanya di lingkungan sekolah, lanjut Suprianto, CH selalu menyempatkan diri untuk bersalaman dengan semua orang yang ditemuinya. Termasuk para siswa. Hal itulah yang diduga membuat hubungan pria 38 tahun tersebut, menjadi sangat akrab dengan para korban.

”Kami sedang fokus memulihkan kondisi psikis para siswa (korban). Apalagi sebentar lagi kan mau ujian. Saat ini mereka masih shock, takutnya dengan adanya kegiatan pelajaran di sekolahan, akan semakin membuat mereka tidak nyaman. Makanya terus kita berikan pendampingan, mohon dipahami ya. Mohon bantuannya,” tutup Suprianto sembari mengatakan jika kasusnya sudah ditangani Satreskrim Polres Malang.