Jokowi tolak wacana presiden 3 periode (@jokowi)
Jokowi tolak wacana presiden 3 periode (@jokowi)

Wacana presiden tiga periode dan dipilih langsung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) terus menggelinding. Masyarakat pun ramai memberikan respons. Sebagian, secara langsung memberikan penilaian bahwa di belakang wacana itu ada kepentingan untuk melanggengkan kekuasaan Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Hal itu membuat Jokowi pun bereaksi tegas. Presiden yang menginjak dua periode berkuasa ini, melontarkan sindiran keras kepada berbagai pihak. Jokowi berupaya menyatakan pada publik, dirinya secara tegas menolak adanya wacana presiden 3 periode.

"Ada yang ngomong presiden dipilih 3 periode, itu ada 3. Ingin menampar muka saya, ingin cari muka, padahal saya punya muka. Ketiga ingin menjerumuskan. Itu saja, sudah saya sampaikan," ucap Jokowi. 

Tak hanya melalui media, Jokowi pun menyampaikan hal serupa melalui akun pribadinya di media sosial. Dia mengklaim, sudah memberi wanti-wanti agar pembahasan itu tidak meluas.

Sayangnya, wacana tersebut menggelinding begitu cepat. Wacana presiden dipilih MPR sampai kepala daerah kembali ke pangkuan suara DPRD dan periodesasi jabatan, meluas.

"Saya adalah produk pemilihan langsung berdasarkan UUD 1945 pasca reformasi. Posisi saya jelas: tak setuju dengan usul masa jabatan Presiden tiga periode. Usulan itu jelas menjerumuskan saya, hendak menampar muka saya,," tulis Jokowi di akun @jokowi.

Tak hanya itu, Jokowi menyebut bahwa saat ini Indonesia tidak membutuhkan amandemen konstitusi. "Tak usah ada amandemen konstitusi. Kita konsentrasi saja menghadapi adanya tekanan eksternal yang tak mudah kita selesaikan," imbuh Jokowi.

Wacana presiden tiga periode dan dipilih langsung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tersebut muncul akhir November 2019 lalu. Tepatnya, sejak Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) bertemu dengan PB Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menyampaikan pemilihan presiden secara langsung mengakibatkan banyak masalah. Dia juga mengusulkan pemilihan lewat MPR. 

Saat itu, secara tegas Said Aqil juga mengatakan bahwa usul itu bukan suara Pengurus Tanfiziah (Dewan Pelaksana) PBNU. Melainkan hanya suara kiai dan para alim ulama.

Sejak muncul di permukaan, wacana itu ternyata menggelinding cepat dan berkembang. Salah satunya yakni mengenai usulan agar presiden bisa menjabat 3 periode. Dua wacana itu lantas menuai berbagai respons dari banyak pihak. Tak terkecuali dari berbagai partai politik (parpol). 

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Panci Syarwi Chaniago bahkan menyebut bahwa parpol bersikap "malu-malu kucing" terkait wacana itu. Antara menyetujui atau menolaknya secara tegas, belum terlihat dalam penyataan-pernyataan yang disampaikan publik. Meski sudah ada beberapa parpol yang secara langsung mengeluarkan rilis resmi menolak wacana tersebut.

Wacana yang terbilang heboh itu, menurut pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arya Budi, dipicu salah satunya dengan sikap frustasi parpol sejak akhir tahun 2014. Pasalnya, jabatan publik semakin jauh dan di luar kontrol mereka.

"Jadi politisi-politisi ini, pemimpin partai ini, merasa berdarah-darah berkarier di politik, tapi mereka ditumbangkan oleh orang yang sama sekali tidak punya kontribusi di partai," ungkap Arya. 

Saling lempar siapa yang pertama kali mengusung wacana itu, khususnya terkait 3 periode jabatan presiden, pun berlangsung di kalangan parpol. Parpol lantas saling tunjuk, misalnya PPP dan PKS menunjuk NasDem yang pertama kali mendorong agar amandemen UUD juga membahas masa jabatan presiden 3 periode. 

Walaupun akhirnya NasDem juga membela diri dengan menyampaikan, usulan amandemen sifatnya menyeluruh terhadap UUD 1945.

Warganet pun ramai atas sikap Jokowi yang secara tegas menolak adanya wacana itu serta melemparkan sindiran keras kepada beberapa pihak yang tak disebutnya itu. Tapi, warganet secara lugas menunjuk para "biang kerok" itu adalah partai politik.

Akun @egit_suhad misalnya secara langsung menuliskan, "partai-partai emang cukup licik..." komentarnya menyikapi pernyataan Jokowi yang mengatakan dirinya sedang dijerumuskan dan hendak menampar wajahnya.