Kunjungan Pemkab Lumajang ke Bondowoso. (Foto muhlis/jatimtimes/kunjungan pemkab lumajang)

Kunjungan Pemkab Lumajang ke Bondowoso. (Foto muhlis/jatimtimes/kunjungan pemkab lumajang)


Pewarta

Muhlis

Editor

Yunan Helmy


Pemkab Lumajang tertarik terhadap program Gerakan Pendidikan Kesetaraan Berbasis Desa (Getar Desa) di Bondowoso. Sebab, program tersebut mampu mengurangi kasus buta huruf. Untuk itu, Pemkab Lumajang melakukan studi banding ke Kabupaten Bondowoso, Kamis, (7/11/2019).

Perwakilan Pemkab Lumajang diterima langsung oleh Kepala Bappeda Bondowoso Dra Farida dan Kepala Inspektorat Wahyudi di aula Racana Praja Pranata. 

Kepala Badan Pembangunan Pemerintah Daerah (Bappeda) Kabupaten Bondowoso Farida menjelaskan, kunjungan Lumajang untuk melihat perencanaan Getar Desa di Bondowoso karena Lumajang mempunyai program serupa. 

“Karena program Getar Desa ini bisa mempercepat pengurangan angka melek huruf dan juga bisa meningkatkan IPM (indeks pembangunan manusia),” katanya.

Bahkan,  program Getar Desa bisa mencegah pernikahan usia dini serta membantu gerakan ‘ayo pergi ke sekolah'. Jadi, banyak aspek yang bisa dicapai melalui program tersebut. 

“Program Getar Desa saat ini progresnya sangat bagus. Sudah sekian puluh ribu warga terentas dari buta aksara. Bahkan ini masuk 45 program terbaik se-Indonesia,” papar Farida. 

Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Bondowoso tetap mengharapkan yang terbaik. “Dan target kami sudah ada di RPJMD (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Bagaiman indikator itu bisa tercapai,” sambungnya. 

Makanya, visi melesat ini harus dibarengi dengan terobosan. Adapun angka rata-rata lama sekolah dari 5,5 tahun sudah menjadi 5,7 tahun. “Ditargetkan nanti 6 lebih,” tambahnya. 

Program Getar Desa yang di-launching pada 2017 oleh Pemkab Bondowoso ini meraih penghargaan Otonomi Award 2018 kemarin.  Program ini merupakan ide besar Bupati Amin Said Husni.

 


End of content

No more pages to load