Ilustrasi bunuh diri. (Foto: istimewa)

Ilustrasi bunuh diri. (Foto: istimewa)



Baru-baru ini, pemberitaan soal bunuh diri menjadi headline di sejumlah media massa. Termasuk yang menimpa Choi Jin Ri alias Sulli, eks anggota girlband F(x). Sulli ditemukan tewas di apartemennya karena depresi dan memilih bunuh diri.

Sementara di Indonesia, seorang anak bernama Yohan Sinaga ditemukan tewas gantung diri beberapa hari lalu.  Yohan diduga trauma atas kasus tahun 2012. Yakni saat ayahnya, Antonius Sinaga (42),  mengecor istrinya yang bernama Yance Suni (36) hidup-hidup di lubang WC.

Di tengah maraknya kasus bunuh diri itu, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki) Malang Prof Dr Abdul Haris MAg memberikan pendapat "adem-nya".

Menurut Haris, banyaknya orang bunuh diri disebabkan mereka sudah putus asa. Ia menyampaikan bahwa dalam ajaran agama, seberat apa pun hidup dan apa pun tantangannya, orang tidak boleh putus asa.

"Seberat apa pun kehidupan, seberat apa pun tantangan yang dihadapi, orang tidak boleh putus asa. Di dalam Alquran disebut, 'jangan engkau semua putus asa dari rahmat Tuhan'," tuturnya.

Meski menghadapi masalah, semisal kehilangan,  Haris menegaskan bahwa rahmat dan nikmat Tuhan jauh lebih banyak daripada  apa yang hilang tersebut.

"Maka kemudian diharapkan masih tetap berharap kepada Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala," lanjutnya.

Selain itu, bidang keilmuan psikologi bisa membantu manusia mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan jiwa. "Psikologi juga membantu itu. Memberikan guide bahwa sesungguhnya hati dan jiwa itu harus di-manage sedemikian rupa dengan penuh harapan," ucap Haris.

Psikologi sebagai sains, bagi Haris, harus bermakna, berfaedah, dan berguna bagi kehidupan umat manusia supaya tidak jatuh ke dalam hal-hal yang merugikan umat manusia secara individu maupun secara keseluruhan.

Untuk itu, UIN Maliki Malang memandang penting adanya bidang psikologi lantaran bisa memberikan guide kepada manusia. Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang sendiri baru saja memperoleh izin operasional S2 psikologi.

Psikologi ini diharapkan membantu manusia dalam rangka untuk membantu kesehatan jiwanya. Untuk itulah, psikologi di perguruan tinggi harus diperkuat. Terlebih lagi di era teknologi seperti sekarang.

"Di era sekarang aja sudah seperti itu. Apalagi nanti misalnya menghadapi era industri 5.0 yang saya kira dengan kemajuan sains dan teknologi yang begitu kompleks, lebih kompleks daripada hari ini, orang kemudian banyak yang putus asa karena harapan-harapannya tidak terealisasi dan tekanan-tekanan yang menguat," ungkap Haris.

 

Tag's Berita

End of content

No more pages to load