Beberapa narkoba jenis baru yang masuk di wilayah Indonesia. (Foto : Pusat Laboratorium Narkotika BNN)

Beberapa narkoba jenis baru yang masuk di wilayah Indonesia. (Foto : Pusat Laboratorium Narkotika BNN)



Jenis narkotika yang ada di berbagai belahan dunia semakin bervariasi. Berdasarkan data yang dihimpun Badan Narkotika Nasional (BNN), terdapat sekitar 900 jenis narkoba yang masuk kategori baru. Dari jumlah itu, 74  tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

”Berdasarkan data dari pusat, terdapat 899 narkoba jenis baru. Kami menyebutnya dengan istilah NPS (new psychoactive substances),” kata Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Malang Mohammad Choirul saat ditemui MalangTIMES.com di ruangannya, Selasa (15/10/2019).

 ”Sebanyak 74 NPS ini sudah teridentifikasi tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Bali, NTT (Nusa Tenggara Timur), NTB (Nusa Tenggara Barat), Sulawesi, serta di beberapa wilayah Indonesia lainnya,” sambung Choirul.

Sayangnya, dari 74 NPS yang teridentifikasi sudah beredar tersebut, hanya sebagian yang sudah diatur dalam perundang-undangan. Salah satunya dalam ketentuan Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) Nomor 50 Tahun 2018. ”Dari 74 NPS, sebanyak 66 di antaranya sudah diatur dalam permenkes. Sedangkan 8 belum ada ketentuan, baik perundang-undangan maupun peraturan pemerintah,” jelas Choirul.

Delapan NPS yang belum masuk dalam permenkes ini meliputi NPS jenis plant based substances, phencyclidine-type substances, synthetic cathinones, piperazines, shynthetic cannabinoids, dan beberapa kategori NPS yang masuk kategori other substances.

”Dampak mengonsumsi narkoba jenis baru ini sama dengan efek yang terjadi jika mengonsumsi narkoba pada umumnya. Yakni menyerang saraf pusat, sehingga bisa berdampak pada psikis, perilaku, tingkat kesadaran, dan terutama pada kesehatan tubuh si pengguna,” terang Choirul.

Choirul menambahkan,  efek yang dialami pengguna saat mengonsumsi narkoba jenis baru juga memiliki dua dampak sekaligus. Pertama, sesaat setelah mengonsumsi NPS, pengguna akan merasakan sensasi yang berbeda. ”Misalnya, jika sebelum mengonsumsi merasa sedih, maka setelah mengonsumsi NPS, pengguna akan merasakan sensasi yang seolah-olah merasa bahagia. Tapi itu hanya efek sesaat. Setelahnya pengguna bisa mengalami kecanduan jika tidak mengonsumsinya kembali,” imbuhnya.

Sedangkan dampak yang akan dialami secara tidak langsung, terang Choirul, biasanya akan berpenggaruh pada kesehatan si pengguna. Jika sudah demikian, orang yang mengonsumsi NPS bisa mengalami sakau, bahkan berujung meninggal dunia.

”Tidak bisa dipungkiri, akibat mengonsumsi narkoba itu pasti akan berpengaruh pada kesehatan tubuh. Utamanya terhadap organ penting manusia, jantung, liver, dan ginjal. Pada beberapa kasus, orang yang sudah kecanduan tingkat tinggi biasanya akan berujung meninggal dunia akibat organ vital dalam tubuh sudah tidak bisa berfungsi secara normal,” tutup Choirul.

 


End of content

No more pages to load