Ilustrasi, net

Ilustrasi, net



Kejadian aneh dialami perempuan berisial PTN (28), warga Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung. Betapa tidak. Dia harus melahirkan dua anak akibat  perkosaan yang dialaminya pada 2017 dan 2018. Namun, satu anak meninggal dunia dan satu anak lagi dengan jenis kelamin perempuan kini telah berusia 6 bulan.

"Kepala desanya lapor jika warganya menjadi korban perkosaan," kata Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia melalui Paur Humas Ipda Anwari, Jumat (11 /10) pagi.

Menurut Anwari, kejadian ini awalnya tidak dilaporkan pada 2017 lalu. Saat itu, ceritanya, korban PTN tiba-tiba didatangi pria saat berada di dalam rumah.

"Pria atau terlapor yang masih dalam penyelidikan ini saat itu masuk ke rumah korban dan mendorong korban hingga pingsan. Kemudian berbuat pencabulan itu," ujar Anwari.

Saat sadar, PTN sudah dalam keadaan telanjang bulat dengan kemaluan yang basah akibat perbuatan lelaki yang datang ke rumahnya itu.

Akibat perbuatan lelaki biadab tersebut, korban PTN hamil dan pada 7 Oktober 2017 melahirkan seorang anak laki-laki. "Tapi dua hari kemudian, anak yang dilahirkan itu meninggal dunia," ungkap Anwari.

Tak berhenti di situ. Teror penjahat kelamin yang dialami PTN masih berlanjut. Pada  2018 lalu, PTN yang saat itu hendak pergi ke ladang tiba-tiba bertemu dengan lelaki yang pernah memerkosanya di rumah hingga melahirkan tersebut.

"Saat di ladang, tiba-tiba terlapor itu datang dan mendorong tubuh korban ke semak-semak dan melakukan aksinya. Bahkan, saat di ladang ini, terlapor melakukan perbuatan cabul bukan hanya sekali, namun hingga tiga kali," beber Anwari.

Pengakuan PTN yang disampaikan kepala desa ke penyidik, dirinya mengalami perkosaan lagi sehingga mengakibatkan kehamilan kedua. Nasib menyedihkan itu berbuah kelahiran anak kedua. Bertempat di RSUD dr Iskak Tulungagung, seorang anak perempuan lahir dari rahim PTN.

Kepala desa Ngrejo melalui Sekretaris Desa Wiwik Agung saat dihubungi membenarkan peristiwa itu terjadi pada warganya. Namun, hingga enam bulan pengaduan masyarakat disampaikan kepada pihak kepolisian, belum ditentukan siapa pelaku  perkosaan itu.

"Itu sudah lama ada pengaduan dari masyarakat. Polisi juga sudah beberapa kali melakukan penyelidikan dan saya dengar ini mau naik ke pelaporan," kata Wiwik.

Menurut Wiwik, PTN sering menyebut seorang berinisial SM. Namun saat dikonfrontasi, pelaku yang dimaksud terus berkilah.

"Dia tidak megaku, bahkan saat dipanggil pihak penyidik, juga tetap tidak mengakui. Bahkan, dia meminta ada tes DNA untuk membuktikan kalau dirinya berbuat," ucap Wiwik.

Wiwik membantah bahwa pelaku perkosaan itu misterius sebagaimana mitos kolor ijo. Menurut dia, pihak desa dan korban memercayakan pada penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load