Ilustrasi pemerkosaan (istimewa)

Ilustrasi pemerkosaan (istimewa)



Oknum mahasiswi UB, yang berinisial RN (19), warga asal Kelurahan Pinang, Kebayoran Lama atau yang tinggal di Perum Sigura-gura, Kota Malang, mengaku telah diperkosa oleh seorang temannya berinisial MBE (20) pada 29 Agustus 2019 lalu.

Ia mengaku diperkosa oleh MBE di dalam mobil yang terparkir di halaman parkir Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dari kejadian itu, ia kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Malang Kota.

Namun hal mengejutkan terungkap dari laporan polisi RN yang melaporkan MBE telah memperkosanya. Laporan polisi yang dibuat oleh RN, ternyata merupakan laporan palsu yang diduga dilatari karena cinta segitiga.

Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander, SIK, MH, melalui Kasat Reskrim, AKP Komang Yogi Arya Wiguna, menjelaskan, jika setelah pihak kepolisian mendalami laporan LPB/625/VIII/Jatim/Res Malang Kota, dengan melakukan pemeriksaan korban, saksi korban, terlapor maupun saksi terlapor, didapati keterangan yang tak sama.

"Setelah dilakukan pemeriksaan tambahan pas saksi pelapor, keterangan saksi pelapor, bahwasanya keterangan pelapor atau korban terangkan ternyata isinya tak benar. Itu diarahkan oleh temannya pelapor untuk memberikan keterangan palsu di hadapan pihak kepolisian. Di sini bisa kami simpulkan secara garis besar, penyidik mendapatkan kesimpulan apa yang pelapor laporkan merupakan kejadian yang tak benar atau palsu," jelasnya (25/9/2019).

Lanjutnya, motivasi RN melaporkan laporan yang tak benar terhadap MBE tersebut adalah, karena teman korban berinisil AL (20) ini yang ternyata merupakan pacar korban, merasa curiga jika RN berhubungan dengan MDE. Untuk membuktikan kesetiannya, kemudian AL meminta RN untuk melaporkan MBE ke polisi atas tuduhan pemerkosaan.

"Merasa sakit hati dengan pihak terlapor. Karena ketidaksukaanya itu, kemudian menyuruh untuk melaporkan terlapor. Pihak terlapor dengan korban juga berteman, teman satu kampus. Namun setelah laporan, dilakukan pendalaman oleh pihak kepolisian, keterangan atau alibi terlapor saat itu sedang mengikuti kelas kuliah," bebernya.

Didalami kesesuaian alibi dengan fakta-fakta di lapangan, pada saat jam tertuduh, terlapor sedang mengikuti perkuliahan di kampusnya. Saksi-saksi terlapor yang mengikuti perkuliahan juga sudah diperiksa, dan menyatakan terlapor masuk. Pada pemeriksaan tambahan terhadap pelapor akhirnya mengakui jika laporan yang dibuatnya tak benar.

"Sekitar lima orang saksi telah diperiksa mengenai kasus itu. Namun kami akan lakukan pendalaman lagi dan melakukan pemeriksaan tambahan. Untuk visum belum bisa kami sampaikan karena memang menjadi rahasia etik dari pihak kedokteran," pungkasnya.


End of content

No more pages to load